SDG 3 · SDG 4 Data 2023–2025

Fakta & Data
Indonesia

Lima fakta penting dengan angka nyata tentang kondisi kesehatan dan pendidikan di Indonesia, disertai referensi ilmiah bergaya APA.

SDG 3 · Kesehatan Mental
Fakta Kesehatan Mental Indonesia
SDG 3.4 · Kesehatan Mental · Mahasiswa
1 dari 3

Sekitar 34% mahasiswa Indonesia mengalami gejala distres psikologis signifikan — mencakup kecemasan, depresi, dan stres berat. Angka ini meningkat tajam pasca-pandemi COVID-19, namun sebagian besar tidak mendapat penanganan profesional karena keterbatasan layanan dan stigma sosial yang masih kuat di lingkungan kampus.

Kemenkes RI. (2023). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023: Kesehatan Jiwa Usia Produktif. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
SDG 3.4 · Depresi · Usia 15–24
6,9%

Prevalensi depresi berat pada kelompok usia 15–24 tahun di Indonesia mencapai 6,9%, menjadikan kelompok ini salah satu yang paling rentan. Namun hanya sekitar 10% dari mereka yang mengakses layanan kesehatan jiwa formal.

WHO Indonesia & Kemenkes RI. (2022). Mental Health Atlas 2022: Indonesia Country Profile. Geneva: World Health Organization.
SDG 3.4 · Layanan · Kapasitas
1 : 30.000

Rasio psikolog klinis terhadap penduduk Indonesia adalah 1:30.000, jauh di bawah standar WHO yakni 1:10.000. Di perguruan tinggi, rasio psikolog kampus rata-rata mencapai 1:5.000 mahasiswa, sehingga layanan konseling sangat tidak memadai.

Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). (2023). Laporan Nasional Tenaga Psikologi Indonesia 2023. Jakarta: HIMPSI.
SDG 3.4 · Pandemi · Tren
↑ 3×

Layanan kesehatan jiwa di Indonesia mengalami lonjakan kunjungan hingga tiga kali lipat sejak 2020. Gangguan kecemasan dan depresi menjadi keluhan terbanyak, khususnya di kalangan mahasiswa yang menghadapi tekanan akademik, isolasi sosial, dan ketidakpastian ekonomi.

Kemenkes RI. (2022). Buku Saku Kesehatan Jiwa Pasca Pandemi. Jakarta: Direktorat Kesehatan Jiwa, Kemenkes RI.
SDG 4 · Pendidikan Dasar
Fakta Pendidikan Dasar Indonesia
SDG 4.1 · Akses · Anak Putus Sekolah
1,87 Juta

Sebanyak 1,87 juta anak usia sekolah di Indonesia tidak mengenyam pendidikan formal. Mayoritas berasal dari keluarga prasejahtera di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Faktor utama meliputi jarak geografis, keterbatasan ekonomi, serta pernikahan dini yang masih marak di beberapa provinsi.

BPS & Kemendikbudristek. (2023). Statistik Pendidikan Indonesia 2023. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
SDG 4.1 · Kualitas · PISA 2022
Peringkat 68

Indonesia berada di peringkat 68 dari 81 negara dalam PISA 2022 untuk kemampuan membaca dan matematika siswa usia 15 tahun. Skor rata-rata membaca 359 poin, jauh di bawah rata-rata OECD 476 poin, mencerminkan krisis kualitas pembelajaran yang mendalam.

OECD. (2023). PISA 2022 Results (Volume I): The State of Learning and Equity in Education. Paris: OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/53f23881-en
SDG 4.1 · Disparitas · Regional
40 poin

Kesenjangan skor kompetensi literasi antara siswa di Jawa dan luar Jawa rata-rata mencapai 40 poin setara PISA. Provinsi seperti Papua dan Maluku mencatat angka rata-rata jauh lebih rendah dibanding DKI Jakarta, mencerminkan ketimpangan infrastruktur, guru, dan fasilitas belajar yang parah.

Kemendikbudristek. (2023). Rapor Pendidikan Indonesia 2023: Asesmen Nasional. Jakarta: Pusat Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek.
SDG 4.1 · Digital · Kesenjangan
25%

Sekitar 25% siswa SD–SMP di daerah pedesaan Indonesia tidak memiliki akses internet yang memadai untuk pembelajaran daring. Ketimpangan ini memperparah learning loss pasca-pandemi, di mana siswa di daerah terpencil kehilangan capaian belajar hingga setara 1,5 tahun dibanding rekan mereka di perkotaan.

UNICEF Indonesia. (2022). Closing the Digital Divide: Education Equity in Post-Pandemic Indonesia. Jakarta: UNICEF Indonesia Country Office.