Proyek STEM · Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Kesehatan Mental Mahasiswa

Proyek design thinking untuk SDG Tujuan 3 — Target 3.4: mendorong pencegahan, pengobatan, dan promosi kesehatan mental bagi mahasiswa di Indonesia.

3 Kehidupan Sehat & Sejahtera Haqqi Triananda Afari · Ilmu Komputer, FMIPA UNJ
Apa itu SDGs?

17 Tujuan untuk Dunia yang Lebih Baik

Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) adalah kesepakatan pembangunan global yang mendorong perubahan menuju pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan, guna mendukung pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan. SDGs diterapkan dengan prinsip universal, terintegrasi, dan inklusif untuk memastikan tidak ada seorang pun yang tertinggal ("No-one Left Behind"). SDGs terdiri dari 17 Tujuan dan 169 target yang melanjutkan upaya dan capaian Millennium Development Goals (MDGs) yang berakhir pada tahun 2015. (SDGs Indonesia – Kementerian PPN/Bappenas, n.d.)

Dalam proyek ini, isu kesehatan mental di kalangan mahasiswa Indonesia dianalisis lebih lanjut menggunakan Design Thinking Process, dengan fokus pada Tujuan 3 yang disorot di antara ke-17 tujuan berikut.

Tujuan & Target Terpilih

Tujuan 3 — Target 3.4

Proyek ini secara spesifik didasarkan pada Tujuan 3, Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-Being), khususnya Target 3.4:

"Pada tahun 2030, mengurangi hingga sepertiga angka kematian dini akibat penyakit tidak menular melalui pencegahan dan pengobatan, serta meningkatkan kesehatan mental dan kesejahteraan."
— United Nations, 2015
Fakta & Angka

Mengapa Target Ini Mendesak di Indonesia

Lima data kunci yang menjadi dasar pemilihan fokus masalah, dirujuk menggunakan gaya APA.

SKI 2023 9,16 juta

kasus depresi tercatat secara nasional pada tahun 2023 — setara prevalensi 3,7% penduduk Indonesia.

(Kementerian Kesehatan RI, 2023)
SKI 2023 15–24 tahun

kelompok usia dengan prevalensi depresi tertinggi (2%) — perempuan (2,8%) lebih tinggi dibanding laki-laki (1,1%).

(Kementerian Kesehatan RI, 2023)
I-NAMHS 2022 1 dari 3

remaja Indonesia (34,9%, ±15,5 juta orang) mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir — namun hanya 2,6% yang pernah mengakses layanan profesional.

(Kementerian Kesehatan RI, 2022; Kementerian PPPA & UNICEF, 2024)
Riskesdas 2018 19 juta+

penduduk berusia di atas 15 tahun mengalami gangguan mental emosional (prevalensi 9,8%) — 12 juta di antaranya mengalami depresi.

(Kementerian Kesehatan RI, 2018)
WHO 2022 Global

gangguan kecemasan merupakan gangguan mental yang paling banyak dialami remaja; kondisi psikologis yang tidak tertangani pada usia muda berisiko berlanjut hingga dewasa.

(World Health Organization, 2022)
Konteks Masalah

Mengapa Ini Penting bagi Mahasiswa

Fase transisi yang rentan

Mahasiswa berada pada fase transisi menuju dewasa, sehingga rentan terhadap tekanan berupa beban tugas, ekspektasi akademik, penyusunan skripsi, hingga masalah finansial.

(Auerbach et al., 2018)

Tantangan struktural di kampus

Rasio psikolog/konselor kampus dengan jumlah mahasiswa masih sangat tidak seimbang, dan stigma sosial membuat banyak mahasiswa enggan mengakses layanan konseling secara langsung.

(Eisenberg, Hunt, & Speer, 2012)
Peninjauan Fokus Masalah

Tinjauan 17 SDGs & Analisis SWOT

Sebelum menetapkan fokus akhir, seluruh 17 SDGs ditinjau untuk mengidentifikasi isu yang paling relevan dan mendesak bagi mahasiswa Indonesia. Proses ini mengerucut pada Tujuan 3, khususnya Target 3.4, yang kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan kerangka SWOT.

Kekuatan · Kelemahan · Peluang · Ancaman

Goal 3 — Target 3.4

Menjamin Kehidupan Sehat dan Mendukung Kesejahteraan Bagi Semua di Segala Usia. (United Nations, 2015)

S

Kekuatan

Kesadaran institusi kampus dan generasi muda terhadap pentingnya kesehatan mental semakin meningkat, ditandai dengan makin banyaknya pusat bimbingan konseling di perguruan tinggi. Akses layanan kesehatan jiwa primer juga mulai diperluas melalui puskesmas dan program promosi kesehatan jiwa nasional.

(Kementerian Kesehatan RI, 2023)
W

Kelemahan

Rasio psikolog/konselor kampus dibanding jumlah mahasiswa masih sangat tidak seimbang. Dari 15,5 juta remaja Indonesia yang mengalami masalah kesehatan mental, hanya 2,6% yang pernah mengakses layanan dukungan atau konseling profesional. Stigma sosial (rasa malu) turut menghambat mahasiswa untuk datang langsung ke ruang konseling.

(I-NAMHS, 2022; Kementerian PPPA & UNICEF, 2024; Eisenberg, Hunt, & Speer, 2012)
O

Peluang

Penetrasi perangkat seluler dan perkembangan teknologi aplikasi berbasis web memungkinkan terciptanya platform tele-counseling anonim yang dapat diakses kapan saja (on-demand). Hal ini berpotensi mendobrak hambatan stigma secara signifikan.

(Auerbach et al., 2018)
T

Ancaman

Prevalensi depresi tertinggi berada pada kelompok usia muda 15–24 tahun (2%). Tekanan akademik, persaingan dunia kerja pasca-lulus, dan beban finansial berpotensi terus meningkatkan angka tersebut. Maraknya informasi kesehatan mental yang tidak tervalidasi di media sosial juga berisiko memicu self-diagnosis yang keliru dan berbahaya.

(Kementerian Kesehatan RI, 2023)
Tahap 01 — Design Thinking

Empati & Penelitian

Kelompok menyebarkan survei anonim menggunakan Google Forms untuk mengukur distres psikologis dan tekanan akademik pada mahasiswa lokal di seluruh tingkatan semester. Alat ini dipilih karena kepraktisannya dalam mengumpulkan data yang akurat, menggunakan skala penilaian 1–5 (dari "Tidak Pernah/Sangat Rendah" hingga "Selalu/Sangat Tinggi") agar responden dapat menilai tingkat stres mereka dengan mudah dan jujur.

Demografi Responden

25 Responden Mahasiswa Aktif

Jenis Kelamin

Laki-laki48%
Perempuan40%
Tidak disebutkan12%

Usia

20–22 tahun64%
17–19 tahun32%
23–25 tahun4%

Status Akademik

Semester 5–644%
Semester 3–424%
Semester 1–220%
Skripsi/TA12%
Temuan Utama

Kondisi Mental Mahasiswa

Persentase menunjukkan proporsi responden yang memberi skor tinggi (4–5) pada tiap indikator.

Tekanan akademik tinggi
64%
Cemas akan masa depan akademik
79,2%
Sulit berkonsentrasi saat belajar
48%
Kehilangan motivasi mengerjakan tugas
44%
Kelelahan mental
40%
Gangguan tidur akibat overthinking
32%
Sedih/tertekan tanpa alasan jelas
28%
Masih menikmati aktivitas sehari-hari
68%
Sumber Tekanan Utama (boleh pilih lebih dari satu)
Tugas kuliah
80%
Nilai akademik
52%
Pekerjaan
48%
Skripsi
36%
Keluarga
36%
Hubungan pertemanan/cinta
32%
Masalah keuangan
28%
Organisasi
20%
Pola Pencarian Dukungan (boleh pilih lebih dari satu)
Bercerita kepada teman
68%
Bercerita kepada keluarga
24%
Bercerita kepada pasangan
12%
Konselor/psikolog profesional
8%
Bercerita ke diri sendiri
4%
Memendam tanpa bercerita
4%
Benar-benar tidak bercerita
4%
Secara keseluruhan, data ini menegaskan adanya urgensi untuk menghadirkan sistem intervensi kesehatan mental digital bagi mahasiswa, yang menyediakan ruang konseling yang aman sekaligus fitur skrining mandiri — menjembatani mahasiswa yang cenderung lebih nyaman bercerita kepada teman sebaya, namun masih minim akses terhadap layanan profesional yang memadai.
Matriks Riset dengan Empati

Solusi yang Sudah Ada

Peninjauan terhadap penyedia layanan kesehatan mental yang sudah tersedia bagi mahasiswa Indonesia saat ini.

Riliv

PT Riliv Psikologi Indonesia
Apa yang disediakan

Konseling online via chat dengan psikolog profesional, meditasi terbimbing (mindfulness), jurnal harian suasana hati, dan artikel edukasi kesehatan mental.

Target audiens

Remaja, mahasiswa, serta orang dewasa.

Biaya

Fitur meditasi & artikel gratis. Sesi konseling psikolog berbayar mulai Rp100.000–Rp150.000/sesi.

Kesenjangan

Harga konseling berbayar masih sering dianggap mahal.

Wawasan lain

Anonimitas digital membantu mengurangi hambatan stigma, namun tantangannya adalah konsistensi pengguna dalam pengobatan mandiri.

Halodoc

PT Media Dokter Investama
Apa yang disediakan

Konsultasi chat/video dengan psikiater/psikolog, layanan resep obat psikiatri online, fitur "Tanya Dokter" 24 jam.

Target audiens

Semua kelompok usia (dewasa & remaja) dengan akses internet.

Biaya

Unduh gratis. Konsultasi berbayar ±Rp150.000–Rp500.000/sesi; obat dijual terpisah.

Kesenjangan

Biaya konsultasi psikiater/psikolog masih tergolong mahal untuk mahasiswa.

Wawasan lain

Platform kesehatan terbesar di Indonesia, tetapi kesehatan mental hanya salah satu dari banyak layanan (bukan fokus utama).

Puskesmas

Kecamatan / Terdekat
Apa yang disediakan

Layanan konseling dasar, pemeriksaan kesehatan jiwa ringan, dan rujukan ke rumah sakit jika diperlukan.

Target audiens

Masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, warga sekitar.

Biaya

Umumnya gratis dengan BPJS; tanpa BPJS sekitar Rp5.000–Rp20.000 tergantung kota & kebijakan daerah.

Kesenjangan

Jam pelayanan terbatas, antrean cukup lama, tidak semua puskesmas punya psikolog khusus.

Wawasan lain

Tetap jadi pilihan penting karena dekat dan terjangkau.

Tahap 02 — Design Thinking

Ide (Ideation)

Temuan dari tahap empati dan penelitian dipetakan ke dalam mind map untuk menjabarkan seluruh aspek masalah — mulai dari penyebab, dampak, kemungkinan solusi, hingga hambatan yang dihadapi mahasiswa.

PENYEBAB

Tekanan akademik, beban finansial, dan ekspektasi sosial yang membebani mahasiswa.

DAMPAK

Konsekuensi fisik, akademik, dan sosial yang dirasakan ketika tekanan tidak tertangani.

SOLUSI

Kemungkinan intervensi: platform digital, kebijakan kampus, hingga dukungan sebaya.

HAMBATAN

Stigma, biaya, dan keterbatasan akses menjadi penghalang utama help-seeking.

Tahap 03 — Design Thinking

Prototipe

Ide awal ditinjau dan disempurnakan menggunakan starburst (4W1H), kemudian dipetakan ke dalam Lean Canvas untuk menguji kelayakan solusi secara lebih menyeluruh.

Meninjau & Menyempurnakan

Starburst — 4W1H

SIAPA

Mahasiswa aktif jenjang S1, terutama yang berada dalam kondisi rentan seperti tingkat akhir/skripsi.

MENGAPA

Mengatasi hambatan stigma sosial dan keterbatasan psikolog kampus dalam mengakses layanan kesehatan mental.

APA

Platform digital sederhana yang menyediakan skrining mandiri dan sarana curhat anonim terenkripsi.

DI MANA

Dapat diakses kapan saja dan di mana saja secara online, terintegrasi dengan layanan konseling kampus yang sudah ada.

BAGAIMANA

Dikembangkan sebagai aplikasi mobile-web ringan (low-data) dengan sistem "kode unik" otomatis untuk menjaga privasi tanpa perlu login.

Kelayakan Solusi

Lean Canvas

Masalah

Masih kuatnya rasa malu/takut dihakimi (stigma) saat mengakses layanan kesehatan mental. Sulitnya menemukan jadwal atau menghubungi konselor kampus secara cepat. Banyak mahasiswa tidak menyadari tingkat keparahan stres karena tidak ada alat skrining praktis. Koneksi internet mahasiswa yang sering terbatas.

Alternatif Saat Ini

Mahasiswa lebih memilih diam, memendam masalah, atau hanya curhat ke teman, padahal butuh bantuan profesional.

Solusi

Aplikasi Mobile & Web: untuk kenyamanan penuh (Android/iOS) dan web low-data untuk akses cepat tanpa unduh.

Skrining Mandiri: kuesioner instan yang langsung memberi skor & saran tanpa login.

Curhat Anonim: formulir terenkripsi dengan "Kode Unik" otomatis.

Direktori Konselor: daftar psikolog kampus, jadwal, spesialisasi, tombol hubung instan.

Key Metrics

Jumlah unduhan & kunjungan web, waktu respons konselor, jumlah mahasiswa yang berhasil dirujuk.

Keunikan Ide

Value Proposition: ekosistem paling fleksibel — dapat diunduh (untuk push notification) atau cukup lewat web browser bawaan HP.

Simpan Kode Unik Otomatis: kode keluhan tersimpan otomatis di local storage perangkat sehingga pengguna tidak takut kehilangan akses balasan.

High-Level Concept

"Aplikasi Konseling Instan Kampus: Cek Mental dan Curhat Kapan Saja, Aman Tanpa Identitas, Sedekat Jangkauan Jari."

Tidak Adil / Keuntungan

Unfair Advantage: kemitraan eksklusif dan integrasi langsung dengan jaringan pusat konseling dan biro kemahasiswaan universitas.

Channels (Distribusi)

Sosialisasi program orientasi mahasiswa baru, kerja sama BEM/himpunan mahasiswa, media sosial resmi kampus, standing banner/QR code di mading dan fasilitas umum kampus.

Segmentasi

Target Pengguna: mahasiswa aktif dari semua tingkatan (semester awal hingga akhir); mahasiswa yang sedang mengalami tekanan akademis tinggi (tugas akhir/skripsi); mahasiswa yang butuh ruang aman untuk mencurahkan isi hati atau mencari bantuan psikologis.

Early Adopters

Mahasiswa tingkat akhir yang rentan stres/burnout karena skripsi, serta komunitas mahasiswa peduli isu kesehatan mental (mental health awareness).

Perkiraan Biaya

Pengembangan Platform: UI/UX, coding aplikasi mobile (Android/iOS) dan website berbasis low-data.

Infrastruktur & Publikasi: sewa server cloud (hosting), database, lisensi developer Google Play Store & Apple App Store.

Konten & Edukasi: penyusunan materi artikel, tips self-help, panduan kesehatan mental.

Operasional: kompensasi/apresiasi untuk relawan konselor dan psikolog kampus.

Perkiraan Pendapatan

Tidak ada / belum ditentukan — solusi ini berorientasi pada dampak sosial, bukan model bisnis komersial.

Tahap 04 — Design Thinking

Pengujian & Peninjauan

Umpan balik penting untuk menguji fungsionalitas solusi dari sudut pandang pengguna sekaligus meminimalkan bias desain. Berikut rencana pengujian dan evaluasi awal terhadap prototipe.

Rencana Pengujian

Siapa yang Akan Dimintai Umpan Balik?

Mahasiswa tingkat akhir / skripsi

Target utama dengan stres akademik tertinggi — dimintai umpan balik untuk menguji antarmuka dan fitur skrining mandiri.

Konselor & psikolog kampus

Dimintai umpan balik untuk mengevaluasi efisiensi sistem serta keamanan enkripsi Kode Unik.

Evaluasi Prototipe

PMI — Plus, Minus, Improvement

Plus

Platform ringan, gratis, tanpa birokrasi, dan menjamin privasi penuh bagi pengguna.

Minus

Jika pengguna kehilangan "Kode Unik" atau menghapus cache, mereka kehilangan akses ke riwayat balasan konselor.

Improvement

Menambahkan fitur ekspor kode unik ke berkas teks dan pengingat self-check harian.

Kesuksesan yang Diharapkan

Indikator Keberhasilan

200+

pengguna aktif unik pada semester pertama.

≤ 1×24 jam

waktu respons maksimal dari konselor terhadap curhat masuk.

8% → 20%

target kenaikan angka rujukan sukses ke layanan profesional.

Tahap 05 — Design Thinking

Refleksi

Pertanyaan refleksi yang menutup keseluruhan proses design thinking dalam proyek ini.

01

Mengapa SDGs PBB relevan dengan inovator, penemu, dan desainer abad ke-21?

SDGs PBB sangat relevan bagi inovator, penemu, dan desainer abad ke-21 karena menjadi kompas moral dan peta jalan universal untuk menyelesaikan krisis kemanusiaan yang mendesak. Kini, inovasi tidak lagi dinilai hanya dari kecanggihan teknologi atau keuntungan ekonomi, melainkan juga dari dampak sosial dan keberlanjutannya. SDGs memberi desainer kerangka kerja yang jelas untuk mengenali persoalan nyata, seperti kesenjangan akses pendidikan (SDG 4) dan krisis kesehatan jiwa (SDG 3). Prinsip "No-one Left Behind" mendorong terciptanya solusi inklusif bagi kelompok yang selama ini terpinggirkan, sehingga setiap inovasi yang lahir memiliki tujuan lebih besar: membangun kesejahteraan manusia jangka panjang.

02

Strategi mana yang paling membantu dan mengapa?

Strategi yang paling membantu adalah pengumpulan data empiris melalui survei kuesioner anonim serta pemetaan model dengan Lean Canvas. Survei empati mengubah asumsi awal menjadi data valid, seperti temuan 64% mahasiswa mengalami stres akademik tinggi dan 68% memilih memendam masalah sendiri. Data ini kemudian dipetakan ke dalam Lean Canvas untuk mengidentifikasi keunggulan solusi secara objektif, yaitu akses konseling berbasis web tanpa login yang terintegrasi dengan biro kemahasiswaan.

03

Mengapa umpan balik begitu penting dalam desain? Siapa yang akan Anda minta lebih banyak umpan balik?

Umpan balik penting untuk menguji fungsionalitas produk dari sudut pandang pengguna sekaligus meminimalkan bias desain. Masukan sejawat, misalnya, menyadarkan pentingnya kelemahan konsep aplikasi mobile native terkait kompleksitas pendaftaran dan efisiensi kuota, sehingga solusinya beralih ke platform web low-data. Umpan balik akan diminta dari dua kelompok: pertama, mahasiswa tingkat akhir yang sedang skripsi sebagai target utama dengan stres akademik tertinggi, untuk menguji antarmuka dan fitur skrining mandiri; kedua, konselor dan psikolog kampus, untuk mengevaluasi efisiensi sistem serta keamanan enkripsi Kode Unik.

04

Tahap Design Thinking mana yang paling menantang? Tahap mana yang paling berkesan?

Tahap paling menantang adalah Define, karena menuntut analisis mendalam untuk merumuskan satu pernyataan masalah secara presisi — bahwa hambatan utama mahasiswa mencari bantuan bukan karena minimnya fasilitas konselor, melainkan stigma sosial dan prosedur yang rumit. Tahap paling berkesan adalah Ideate dan Prototype, karena di sinilah ilmu komputer diterapkan langsung untuk merancang arsitektur web low-data yang memanfaatkan local storage guna mengotomatisasi penyimpanan Kode Unik dan menjamin privasi pengguna.

05

Apa keterampilan/ide/konsep paling signifikan yang diperoleh semester ini?

Konsep paling signifikan yang diperoleh adalah integrasi berpikir komputasional dengan empati (empathy-driven computational thinking) melalui Design Thinking dan Lean Canvas. Proyek ini mengubah cara pandang bahwa teknologi efektif harus dilandasi pemahaman mendalam terhadap kondisi psikososial pengguna — kemampuan menerjemahkan hambatan psikologis, seperti ketakutan akan stigma, menjadi fitur digital seperti anonimitas total tanpa akun.